20 Desember 2008

RUSA KUTUB

Rusa kutub migrasi ke padang berumput ketika sungai menjadi lapisan es. Serigala mengendus jejaknya. Beberapa ekor rusa lahir dan menjadi makanan anak serigala yang baru lahir. Airmata Indres berlelehan ketika rusa kecil yang baru saja pandai berjalan disergap lekas. Kami menertawainya.


"Kasihan, Bunda..." seguknya di pangkuanku.
"Dunia binatang seperti itu. Kalau rusa kecil itu tak dimakan, serigala kecil yang mati, " sahutku.


Kami menonton Animal Planet usai berjalan-jalan dan makan bakwan Malang. Ayah kembali ke Markas Besar sebagai bayaran dirinya menjadi supir keluarga. Udara dingin sekali, senantiasa melaparkan perut.


Gerombolan rusa senantiasa mencari kehijauan dan berhadap-hadapan dengan predator - Survival of The Fittest. Tiba-tiba teringat Alfred Wallacea yang namanya ditenggelamkan Charles Darwin sebagai penemu teori evolusi. Linnean Society.


Aku jadi kangen Biologi meski dahulu terasa membosankan dan digarap dengan buruk. Apa boleh buat, begitulah sistem pendidikan : Kau dituntut mengumpulkan nilai yang baik, bukan menghayati keindahan ilmu pengetahuan itu sendiri.


Keindahan Ilmu Pengetahuan justru terasa sublim ketika tidak berada dalam sekolah, melainkan ketika menonton film dokumentar seperti diatas atau membaca National Geographic, setidaknya untukku.


"Mengapa rusa itu dimangsa ?" Sekali lagi Indres menggugat dengan mata sembab.


"Adek makan ikan kan? Makan ayam, kan? Kasihan gak sama ikan dan ayam itu ? " Demikian tuntasku sembari mengaraknya ke peraduan :)

12 Desember 2008

JUARA NYANYI dan FOTO AFGHAN BUAT BUNDA

Berdiri depan westafel dengan air kecoklatan mengucur, bis sekolah berhenti. Teriakan kanak-kanak beserta pintu setengah dibanting : " Aku dapat boneka !"



Ia muncul dengan boneka pisang bertuliskan JUARA SATU LOMBA BERNYANYI. Ia lebih sibuk membuka bungkusan boneka ketimbang pamer dengan rasa bangga. Semalam ia berlatih menggunakan batang sapu sebagai pengeras suara. Kertas bertuliskan JUARA SATU itu kupajang di bufet.



"Sebenarnya, aku kepengen boneka kupu-kupu, " sahutnya di kamar jelang tidur malam. " Tetapi Pak Guru telah memilihkan boneka pisang."



Kakaknya lalu membuka rahasia.



Sering kubualkan Afghan -penyanyi bersuara bagus itu- adalah pacarku. Kemuculan lelaki muda kinyis-kinyis itu selalu kutabuh dengan gaya histeria sebagai penegas bualan yang akan memunculkan empati kanak-kanaknya. Suatu hari ia berada di rumah ibunya. Sampul album Afghan dirobeknya -kata kakaknya- disimpankannya untukku. Namun kertas itu dibuang kakak karena terkena minyak.



Aku geli dalam hati.

02 November 2008

KASIM BABA DIMUTILASI KAH ?

Seperti biasa: ritual jelang tidur. Beberapa potong dongeng. Ini kali kisah dari Persia, negeri lelaki bercelana gelembung. Matanya binar-binar. Bunda menahan kantuk.

Ali Baba menemukan seceruk gua penyamun berisi harta karun yang membuatnya kaya mendadak. Abangnya yang serakah segera ikut-ikutan menyatroni gua penyamun. Namun Si Abang yang bernama Kasim Baba itu kepergok 40 penyamun. Tubuhnya segera dipotong-potong.

Mata Indresaurus terpana. Lalu terdengar suaranya mendengung : Dia dimutilasi kah?"

Bunda tercekat. Antara geli dan takjub. Mendadak sadar kisah Ali Baba tak kalah seram dengan reportase kriminal BUSER atau PATROLI !

12 September 2008

NABI ADAM PAKAI TOPI KAH ?

Jelang tidur ia merengek meminta dikelon dan dongeng. Negeri-negeri ajaib telah dilampaui. Petualangan Siricil dan Fitim (nama kedua tokoh adalah plesetan dari julukannya dan sang kakak) selalu membinarkan matanya, melarutkan tidurnya, melemparkannya ke imajinasi menyenangkan.


Suatu malam ibunda merasa kehabisan negeri khayali. Maka setengah terkantuk ia mengingat-ingat kisah-kisah para Nabi. Tentu saja kekuatan moral dan propaganda cerita sejenis itu dimaksudkan hendak membentuk perilaku terpuji. Ahlakul Karimah.


Indresaurus diapit Ibunda dan kakak. Kakak terbenam dalam selimut tebal. Mesin pendingin ruangan meresahkan Ibunda namun ia tak berbuat apa-apa selain ikut membenamkan badan dalam selimut. Indresaurus menyingkirkan selimut. Pandangannya konsentrasi ke setiap gerak bibir Ibunda.


Ibunda memulainya dengan kisah Nabi Sulaiman yang memahami bahasa bebinatang. Dilanjutkan dengan segerombol pemuda yang tertidur ratusan tahun di seceruk gua. Akhirnya ditutup dengan kisah Nabi Adam, sesepuh bangsa manusia.


Sang Kakak, yang mulai dijejali teori Darwin di sekolah, berkomentar: " Guruku bilang, manusia berasal dari monyet."


Mmmm. Ya, itu sebuah perdebatan. Demikian jawab Ibunda dengan gaya menghindar, was-was kalau-kalau pertanyaan itu harus dijawabnya dengan rumit dan senjata makan tuan bagi dirinya. Dalam hati ibunda menggumam untung saja kakak tak bertanya apakah Nabi Adam termasuk Homo Sapiens.


Indreswary termangu-mangu. Jadi, Nabi Adam hidup sendirian. Ibunda bilang, ia bertelanjang dalam firdaus karena tak ada manusia selain dirinya. Jadi rasa malu pun belum ada. Apakah hidupnya melulu mondar-mandir dan tidur-tiduran?


Indreswary, gadis kecil lima tahun itu lalu bertanya dengan suara melengking, seperti biasa jika ingin pertanyaannya disimak: " NABI ADAM ITU PAKAI TOPI KAH ????? "

11 September 2008

POTONG RAMBUT

Ketika memanjang, rambutnya makin memlintir. Jika tak dijalin, serupa semak yang menyelubungi raut kanak-kanak bermata belo, pipi tembem, mulut mungil dan kulit legam. Indreswaru sang kakak pun mengeluhkan rambutnya yang memanjang.


Jadi rembang petang kami mendatangi sebuah salon. Pemilik salon seorang lelaki yang sedang menyantap kolak buka puasa sembari menyesap rokok. Ia tidak kemayu. Empat piagam dan satu foto diri bersama Rudy Hadisuwarno di dinding. Seorang asisten sedang santai menonton sinetron Ramadhan.


Indreswaru ditangani mula-mula. Suaranya lirih menjelaskan keinginan. Ibunda menerjemahkan keinginannya kepada Sang Kapster. Indreswary jumpalitan di sofa, mengoceh tak henti. Kres-kres-kres, rambut lebat Indreswaru dipangkas. Ia memandang wajahnya sendiri di cermin dengan espresi melankoli.


Kota kecil itu sungguh lengang. Penjaja takjil ramai di pinggir-pinggir jalan, menjajakan makanan yang hampir seragam. Merangsang awalnya, namun kerap tak mengesankan akhirnya.


Sebuah kursi kecil yang ditinggikan diberikan kepada Indreswary ketika gilirannya tiba. Ia tersenyum-senyum. Melihatnya kalem dalam selubung kain tersampir, sungguh aneh. Ibunda memberi petunjuk kepada pemilik salon. Indresary ditangani lekas ketika Indreswaru sedang dikeramas dan rambutnya dikeringkan (ibunda terheran atas prosedur: biasanya rambut dikeramas dulu sebelu dipangkas, di situ sebaliknya)
Tak lama kemudian kedua gadis kecil muncul dengan potongan baru. Indresaru dengan potongan bob, Indreswary dengan rambut lurus temporernya

08 September 2008

GAGAK MALAM

Benar-benar serasa pedesaan dengan riuh bebinatang. Orang-orang pulas. Berselancar, bolak-balik mengiris cake gula palem. Mengunyahnya karena hasrat tiba-tiba. Seekor gagak kedengaran berkaok menembus kelam. Udara dingin oleh hembusan alam dan AC.


Kemarin malam Ibu Mertua menelpon. Serupa tapi tak sama dengan Ibuku, nasehatnya berulang dengan penekanan berbeda. Orang yang dicemasinya tempo hari berkunjung singkat. Mendarat di teras, seperti biasa tanpa malu-malu. Kurasa hingga mampus esok lusa pun ia tak sempat memiliki rasa malu.


Suami menemaniku ke pasar mencari penggilas adonan. Tiba di beberapa toko, termasuk seceruk toko gelap lembab tak karuan di pasar. Masih juga kota kecil ini basah.

22 Agustus 2008

RESUME EMAK-EMAK DRAMA WANITA

Judul lain : Terdampar pada Masa Jane Austen.


Tidak semua emak-emak di dunia ini tipikal dalam tulisan ini. Jadi yang merasa bukan golongan ini jangan tersinggung.


Salah satu penderitaan di dunia ini adalah mendengar omongan emak-emak jenis Drama Wanita. Ciri-cirinya:

1. Sangat suka membanggakan anaknya, sering berlebihan dan tidak sebenarnya.



2. Sangat mencemasi anaknya yang belum ketemu jodoh.



3. Membekali anak-anak perempuannya dengan strategi menjerat lelaki prospektif.



4. Menilai martabat perempuan dari seberapa lekas perempuan tersebut 'laku'.



5. Menilai seseorang secara dangkal, misalnya: tanda hitam di jidat berarti jaminan kesalehan, melongok mukamu berarti cinta, menanyakan keluargamu berarti bakal melamar.



6. Mengherani seseorang yang menikahi janda/duda, dan menganggapnya sebagai tanda keputusasaan dan kepepet.

7. Selalu merasa anaknya idola lelaki sedunia ditandai oleh banyaknya kenalan-kenalan dari dunia maya dan frekuensi kopdar yang dilakukannya.



8. Sangat suka mengobrol tak kenal waktu, meski kau baru keluar dari WC dengan piyama mandi hingga akhirnya air di badanmu mengering dan digantikan oleh keringat



9. Sangat suka menikmati gosip berbau skandal tetangga sebelah, kalau perlu menarik tanganmu untuk melihat obyek gosip tersebut, tapi lalu mengatakan dirinya sekadar 'memetik hikmah dari kejelekan orang lain'



10. Suka merasa penganut agama lain masuk neraka, mengasihani mereka, dan menganggap mereka manusia tolol



11. Sangat suka menasehati perempuan yang lebih muda akan peran kewanitaannya yakni menjadi pelacur, tukang masak, teman, dan ibu bagi suaminya (lalu suami jadi apa, bu? tanyaku)



12. Sesekali menyinggung aktivitas di Drama Wanita (dikalahkan aktivitas menjerat jodoh anak)



13. kemana-mana dan terhadap siapa saja selalu mempresentasikan kehebatan anak-anaknya (banyak fans, disukai dosen, banyak tawaran kerja) hingga kamu bakal bisa mengulangi presentasi tersebut sama persis saking hafalnya.

14 Agustus 2008

QUE SERA SERA........

Lelaki gendut botak yang biasa tersenyum ramah, tertatih menyeret kaki sepanjang dukuh , menyiulkan Que Sera-Sera Doris Day, dan menonton tivi dengan bising, kini membujur dalam peti jenazah, di sudut ruang tamu. Ibu-ibu mengisi serbet dengan uang logam seratus rupiah, membungkusnya sedemikan rupa, merapikannya dengan jarum pentul.


Setelah koma kena serangan stroke, lelaki itu akhirnya mencapai titik. Masa tua terlunta dan kerap menyebalkan -setidaknya bagi saudara kandung dan Mbak Sum. Dahulu sekali, ia memiliki karir bagus, uang banyak, istri cantik, seorang anak menggemaskan. Ia lalu ditelan mabuk judi, menjadikannya jelata, ditinggalkan, penganggu.


Namun dasarnya ia parlente dan periang. Sekian kali kena stroke, ia rebah lalu kembali melangsungkan hidup: cari makan di warung serupa anak kos, menonton tv, kongkow-kongkow di rumah saudarinya, bersiul-siul, memeriahkan panggung di kampung meski tak diundang, membualkan masa muda dan kejayaan, bikin bercangkir-cangkir kopi, ikut pengajian dengan stelan berkilau.


Ia pernah mengaku telah sadar. Ia shalat, maghrib 5 rakaat, ashar 7 rakaat. Mbak Sumi mengoreksinya, ia mencecar berang tak sudi digurui orang desa yang disebutnya tak sekolah. Ia puasa dan tahajjud dengan harapan istrinya berbalik. Sia-sia belaka. Ia tetap lelaki tua jelata tanpa harapan. Maka itu berarti segala doa berbentuk shalat dan puasa sepertinya tak berguna.


Aku tahu ia sangat menyukai lagu Doris Day, Que Sera-Sera karena kerap mendengarnya bersenandung. Suatu ketika ia meminta seseorang di rumah induk mencarikannya lagu tersebut di toko kaset dan CD. Ia lupa nama Doris Day. Ia mencoba-coba mengingat-ingat. Saat itu rasanya aku ingin berteriak menolongnya: " Doris Day...!"


Alhasil hingga ke titik selesainya, ia tak menemukan Doris Day.


Lelaki tua periang telah pergi. Semoga ia menemukan kedamaian. Sebagai penghuni kost adiknya, yang kerap bertegur-sapa dengannya meski menghindari terlibat perbincangan panjang dengannya, aku ingin memberikannya Que Sera Sera dari penyanyi lawas yang namanya pernah dilupakannya :

When I was just a little girl
I asked my mother, what will I be
Will I be pretty, will I be rich
Here's what she said to me.
Que Sera Sera,
Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera Sera What will be will be.
When I was young,
I fell in love
I asked my sweetheart
what lies ahead
Will we have rainbows,
day after day
Here's what my sweetheart said.
Que Sera Sera Whatever will be will be
The future's not ours to see
Que Sera Sera What will be will be.
Now I have children of my own
They ask their mother what will I be
Will I be handsome will I be rich
I tell them tenderly.
Que Sera Sera Whatever will be, will be
The future's not ours to see
Que Sera SeraWhat will be will be.

03 Agustus 2008

KOPI MINT MINGGU PAGI

Kopi mint bersama koran pagi di meja makan, kini sebuah ritual. Akhir-akhir malah berpadu dengan anehnya dengan sosok Ryan Si Penjagal: menyesap kopi sembari menatap tampangnya di televisi melalui berita dan infotainment (yang dikemas sama anehnya: dia ditautkan sebegitu rupa dengan artis-artis pengisi acara gosip tersebut) .


Kemarau ini Jogja sungguh gigil. Pilek alergiku segera terangsang dalam bentuk bersin dan hidung sembab. Di kota suamiku, hujan konon guyur saban hari. Lelaki itu sibuk mempersiapkan sebuah kegiatan perusahaan. Tentu saja dengan kopi dan rokok.


Semalam makan lahap dengan lauk ikan asin. Dimulai dengan sedikit keengganan karena berarti harus sabar dengan topik yang itu-itu saja. Mengapa kebanyakan orang begitu suka menceritakan perihal diri sendiri tanpa memikirkan rasa jenuh pendengarnya? Bahkan tanpa ada tetanda mengingat kekesalanku dahulu, ia melanjutkannya di ruang maya setelah kami masuk ke kamar masing-masing dan terkoneksi internet. Aku melarikan diri dari ruang tersebut dan memutar VCD. Tentang lelaki-lelaki itu, cukup sudah aku menjadi pendengar interaktif di meja makan sebelumnya.


Grace is Gone. Seorang perempuan tentara gugur di Irak atas nama bela negara. Sang suami bingung menyampaikannya pada dua puteri mereka. Ia membawa keduanya meretas jalan, hingga tiba di taman bermain. Dua anak gadis itu girang setengah mati. Di tepi ombak, mobil itu terhenti. Menghadap lidah laut menjulur-julur, di bawah bentangan langit, lelaki itu akhirnya bilang: tentara kadang-kadang sakit atau mati. Itulah yang terjadi pada ibu kalian.


Aku menonton di televisi. Ada kalimat: kita berperang melawan orang yang salah, itu salah satu kalimat Heidi, sang puteri sulung, ditujukan kepada sang ayah yang sedang menyetir dengan pikiran mumet.


Tentu saja salah. Hingga kini alasan menyerbu Irak tak juga dituding sengit sebagai kejahatan kemanusiaan. Soalnya Tuan Amerika yang bersabda. Sabdanya menetapkan kebenaran. Kebenaran itu konon demi kemaslahatan umat manusia. Semakin lama manusia memang tak lagi punya martabat. Tanpa malu-malu membungkus ketamakan dengan alasan kemanusiaan, bahkan kalau perlu kitab suci.


Setelah film itu selesai, aku melanjutkan dengan -kesekian kali- membaca The Bridges Of Madison County-nya Robert James Waller. Novel pendek sebelum tidur. Bulan lalu aku menemukan novel lain dari pengarang yang sama di toko buku di Mal Galeria. Sekilas aku menyerap ringkasan di bagian belakang buku dan menangkap kesan tema favorit Waller adalah cinta yang ditemukan belakangan.


Aku lebih dahulu menonton The Bridges ketimbang membaca novelnya yang kutemukan ditumpukkan di sebuah stand di pameran buku di Gedung Pamungkas. Sebuah tontonan yang -menurutku- memerlukan sedikit ketabahan karena kelambanannya. Kelambanan yang diperlukan demi menyaring rasa yang subtil, serupa bukunya. Beruntung Meryl Street yang memerankan Francesca Johnson bermain sangat kuat sehingga aku cukup dipengaruhi kesunyiannya.


Adakalanya seseorang menikah karena merasa sudah waktunya. Lalu dalam peran tersebut, ia menemukan seseorang yang menurutnya sejati. Seorang moralis akan berpikir : sudah terlambat. Ia akan memilih peran orang baik-baik, seperti Francesca Johnson. Kembali menjadi istri dari lelaki membosankan dan ibu yang berdedikasi pada anak-anaknya. Seorang bonek akan meraih seseorang yang dipikirnya cinta sejatinya, memilih hidup bersamanya, dan disebut peselingkuh.


Hari ini udara seperti kemarin: mendung, gering, gigil. Pagi-pagi sembari menyesap kopi mint, suara-suara minggu pagi seperti biasa. Air memancar kuat dari kran, ember-ember yang disentakkan, lagu-lagu dari beberapa kamar (hari ini ditambah campur sari dari kamar Mbak Sum), anak-anak merengek dan teriak.

25 Juli 2008

MENGHITUNG NAMA-NAMA

I'm Crying For Srebrenica.


Ketika buku teks kajian konflik kupelajari di kelas, belum terasa perih hatiku. Seolah belaka teks informatif yang hanya diperlukan untuk mengisi lembar ujian. Serupa membaca narasi perang-perang lainnya, berikut analisis atasnya.




Radoban Karadzic ditangkap Jumat kemarin (18/7) di bus nomor 73 dari New Belgrade menuju Batajnica. Ia berkeliaran bertahun-tahun dengan tenang, dalam samaran ahli pengobatan alternatif berjanggut semak. Ia setia mengunjungi bar The Madhouse, memesan anggur merah kesukannya. Ia menyewa apartemen dua kamar. Ia dikenal sebagai lelaki tua terpelajar lulusan AS dengan pembawaan welas menyenangkan.


Tahun 1995, Srebrenica adalah zona terlindungi. Pasukan perdamaian PBB asal Belanda -tentara Dutchbat- menjaga kawasan tersebut. Namun pasukan Serbia menyerbu dengan mesin-mesin perang, membantai 8000 Muslim. Ribuan nyawa itu menggelontor sia-sia dalam terkaman kebiadaban sesama manusia atas nama kelompok.


Yang paling memilukanku adalah bahwa pembantaian tersebut sepengetahuan PBB, dalam status Srebrenica sebagai New Haven -sebuah istilah yang digunakan dalam kajian konflik untuk menyebut zona terlindungi - yang dijaga pasukan Duchbat. Pembantaian ribuan nyawa seolah dibiarkan. Betapa kejamnya.


Malam ini sejarah memerihkan itu kucerna kembali : tulisan-tulisan di internet, arsip-arsip, video di YouTube,, foto yang memperlihatkan sebentang nisan atau prasasti nama-nama. Air mataku serta merta guyur. Betapa sedih hatiku. Bukan soal aku seorang Muslim. Tapi soal : Mengapa orang-orang itu dibantai? Mengapa mereka dibiarkan dibantai? Ibliskah berwujud manusia para pembantai itu? Mengapa dunia tak cukup mengamuk mengutuknya seperti peristiwa 11 September?


Terakhir kali aku menangis oleh sesuatu yang tak ada kaitan dengan kehidupanku adalah ketika memandang foto karya Kevin Carter yang memenangi Pulitzer 1994. Bocah dengan tulang berbalut kulit terkulai dengan sepiring makanan yang didapatnya dari Kamp PBB. Ia tak sanggup lagi memakannya karena tak memiliki tenaga untuk menyuap. Seekor burung tegak tak jauh darinya, nampak lebih gagah. Tanah coklat kerontang. Aku menangis terguguk-guguk. Lalu kira-kira mencoba memahami alasan Kevin Carter bunuh diri beberapa tahun kemudian.


Untuk Srebrenica, seolah keluargaku yang diarak ke suatu tempat, ditumpukkan ke ceruk galian bersama ribuan lainnya, lalu dihujani tembakan. Mungkin sebelumnya mereka luar biasa disergap horor ketakutan, mungkin mereka memohon ampun dan belas kasihan, mungkin mereka mengharapkan keajaiban pertolongan entah darimana, mungkin anak-anak menjerit-jerit hanya mengerti kegerahan dan kelaparan, dan tiba saja segenap hening sesudahnya. Ketercekaman.


Sungguh betapa hidup penuh pertempuran tak terpahami. Kerap aku berpikir: sesungguhnya penghuni kerak neraka bukanlah orang yang tidak beragama melainkan manusia yang tak memiliki perasaan, yang geming terhadap kebiadabannya sendiri, yang merayakannya penuh suka cita, yang bangga atasnya dan merasa absah atasnya. Orang-orang seperti itulah yang menurutku layak menjadi bahan bakar neraka. Bukan karena kau bukan Muslim atau bukan Kristen.


Aku hanya bisa mendoakan orang-orang tak berdosa yang dibantai oleh iblis-iblis berwujud manusia, dari keseluruhan rentang sejarah kehidupan, semoga mereka sejatinya diberangkatkan ke tempat yang lebih baik, indah, abadi.